20 Februari 2015 - 11:46
Iran Harus Berani Melawan Sanksi

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei mengatakan Iran dapat bangkit melawan sanksi dan menggagalkan plot negara musuh.

Menurut Kantor Berita ABNA, "Harus dilakukan kerja serius. Kita bisa melawan sanksi dan menegah musuh dari mencapai tujuannya," kata Ayatullah Khamenei yang ditujukan kepada ribuan warga di Tehran, Rabu (18/2).

Rahbar mengatakan bahwa jika Iran tidak melawan sanksi, musuh akan menetapkan syarat untuk program nuklir Tehran dan memberlakukan larangan bagi negara.

Ayatullah Khamenei mengatakan bahwa musuh adalah mengeruk keuntungan maksimum dari sanksi sebagai alat untuk menghentikan kemajuan Iran.

"Jika sanksi akan digunakan [sebagai alat], bangsa Iran akan menetapkan sanksi terhadap mereka di masa depan. Iran memiliki total cadangan minyak dan gas [alam] terbesar di dunia, gas yang dunia dan Eropa membutuhkannya. Iran dapat menjatuhkan sanksi pada mereka (negara-negara Barat) jika diperlukan," kata Rahbar.

Ayatullah Khamenei mencatat bahwa Barat tidak akan mencabut sanksi terhadap Iran meski perundingan nuklir berlanjut seperti yang didiktekan mereka, karena pada prinsipnya mereka menentang Revolusi Islam.

Pemimpin Iran  juga menggarisbawahi tuntuan untuk mengurangi ketergantungan pada pendapatan minyak dan menekankan bahwa Iran harus mengambil jarak dari perekonomian minyak dan meningkatkan produksi dalam negeri sebagai gantinya.

Rahbar juga menolak klaim AS yang memerangi militan ISIL, dan mengatakan bahwa foto-foto yang menunjukkan pasokan senjata Washington untuk kelompok teroris bertentangan dengan klaim pasukan koalisi internasional pimpinan AS.

"Eropa yang malang membutuhkan gas dan berdasarkan eksplorasi yang ada, kami memiliki cadangan terbesar gas dunia," lanjut Rahbar.

Eropa dan AS telah menggunakan sanksi sebagai senjata untuk menekan Iran atas program nuklirnya.

Ayatullah Khamenei mengatakan, "Iran memiliki minyak terbesar di dunia dan cadangan gabungan dan ketika saatnya tiba kita akan menjatuhkan sanksi kepada mereka dan Republik Islam mampu melakukan hal itu."

Alternatif untuk gas Rusia

Eropa bergantung pada Rusia untuk pasokan gas, tetapi meningkatnya ketegangan atas konflik Ukraina telah menimbulkan tatangan serius bagi Eropa atas keamanan energinya.

Pasar negara berkembang di Asia dan yang haus energi, menyisakan Eropa dengan beberapa pilihan untuk memisahkan diri dari ketergantungan terhadap gas dari Rusia.

Reuters melaporkan bahwa Uni Eropa "secara diam-diam meningkatkan urgensi rencana untuk mengimpor gas alam dari Iran.”

Dokumen internal keamanan energi Uni Eropa sebagaimana dilaporkan Reuters juga menjelaskan rencana pemanfaatan sumber impor gas non-Eropa baru di Asia Tengah, termasuk Iran.

Senjata sanksi

Pihak Eropa, bagaimanapun, telah menekuk sayap mereka sendiri dengan mengekor sanksi yang diprakarsai AS.

Hanya sepekan lalu, Uni Eropa sepakat untuk menempatkan kembali nama Perusahaan Nasional Tanker Iran (NITC) dalam daftar sanksi.

Keputusan itu muncul bahkan setelah pengadilan tertinggi kedua Uni Eropa memutuskan Juli lalu bahwa tidak ada alasan untuk memboikot NITC.

Ini terjadi di saat perundingan penting antara Iran dan Barat untuk menemukan solusi final mengatasi perbedaan nuklir di antara mereka, sedang berlangsung.

"Saya percaya bahwa jika kita membiarkan mereka mendikte kita tentang isu nuklir, mereka masih akan mempertahankan sanksi karena apa yang mereka lawan adalah prinsip revolusi kita," tegas Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran tersebut. [IRIB]